AHLAN WA SAHLAN Selamat Datang di blog SantriChannel, yang menyajikan Tulisan-tulisan yang berkaitan dengan ke-santri-an, bernuansa Islami berisikan Hikmah Al-qur'an dan Mutiara Hadits, semoga Blog yang sederhana ini dapat memberikan peningkatan ketaqwaan, kesejukan hati dan ketentraman jiwa, serta menjaga silaturrahmi kita yang tidak pernah terputus. Agar kita benar-benar dapat melakoni apa yang ditetapkan dan disarankan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Kelangsungan Dakwah kami ini beriringan dengan channel #santri di server mIRC DALnet.

Kamis, 15 November 2007

Mistik dan Khurafat, Perdukunan/Paranormal, Mengundi Nasib, Sihir

Kepercayaan adalah landasan pokok bagi masyarakat Islam. Tauhid inti daripada kepercayaan tersebut dan jiwa daripada Islam secara keseluruhannya. Oleh karena itu melindungi kepercayaan dan tauhid, adalah pertama-tama,yang dilakukan oleh Islam dalam perundang-undangan maupun da'wahnya. Begitu juga memberantas kepercayaan jahiliah yang dikumandangkan oleh polytheisme yang sesat itu, suatu perintah yanq harus dikerjakan demi membersihkan masyarakat Islam dari noda-noda syirik dan sisa-sisa kesesatan.

Nilai Sunatullah dalam Alam Semesta

Pertama kali aqidah yang ditanamkan Islam dalam jiwa pemeluknya, yaitu: bahwa alam semesta yang didiami manusia di permukaan bumi dan di bawah kolong langit tidak berjalan tanpa aturan dan tanpa bimbingan. dan tidak juga berjalan mengikuti kehendak hawa nafsu seseorang. Sebab hawa nafsu manusia, karena kebutaan dan kesesatannya selalu bertentangan.
Firman Allah SWT, yang artinya:
"Andaikata kebenaran itu mengikuti

hawa nafsu mereka, niscaya akan rusaklah langit dan bumi serta seluruh makhluk
yang ada di dalamnya."
(Q. S. Al-Mu'minun: 71)

Namun perlu dimaklumi, bahwa alam ini dikendalikan dengan undang-undang dan hukum yang tetap, tidak pernah berubah dan berganti, sebagaimana telah dinyatakan oleh Al-Qur'an dalam beberapa ayat, antara lain sebagai berikut:
"Kamu tidak akan

menjumpai sunnatullah itu berganti." (Q. S. Fathir: 43)

Kaum muslimin telah belajardari kitabullah dan sunnah Rasul supaya menjunjung tinggi sunnatullah yang berbentuk alam semesta ini dan mencari musabab yang diperoleh dari sebab-sebab yang telah diikatnya oleh Allah, serta supaya mereka menolak apa yang dikatakan sebab yang sekedar dugaan semata yang biasa dilakukan oleh para biksu, ahli-ahli khurafat dan pedagang agama.

Memberantas Mistik dan Khurafat

Nabi Muhammad SAW datang dan dijumpainya di tengah-tengah masyarakat ada sekelompok manusia tukang dusta yang disebut dukun dan arraf (tukang ramal, lebih keren: paranormal). Mereka mengaku dapat mengetahui perkara-perkara ghaib baik untuk masa yang telah lalu maupun yang akan datang, dengan jalan mengadakan hubungan dengan jin dan sebagainya.
Justru itu Rasulullah SAW kemudian memproklamirkan perang dengan kedustaan yang tidak berlandaskan ilmu, petunjuk maupun dalil syara. Rasulullah SAW membacakan kepada mereka wahyu Allah yang artinya:
"Katakanlah! Tidak ada yang dapat mengetahui perkara ghaib di langit dan di bumi melainkan Allah semesta."
(Q.S An-NamI: 65)

Bukan Malaikat, bukan jin dan bukan manusia yang mengetahui perkara-perkara ghaib.

Rasulullah SAW juga menegaskan tentang dirinya dengan perintah Allah SWT sebagai berikut:

"Kalau saya dapat mengetahui perkara ghaib, niscaya saya dapat memperoleh
kekayaan yang banyak dan saya tidak akan ditimpa suatu musibah: tidak lain saya
hanyalah seorang (Nabi) yang membawa khabar duka dan membawa khabar gembira
untuk kaum yang mau beriman."
(Q. S. Al-A'raf; 188)


Allah memberitakan tentang jinnya Nabi Sulaiman sebagai berikut:

"Sungguh andaikata mereka (jin) itu dapat mengetahui perkara ghaib, niscaya
mereka tidak kekal dalam siksaan yang
hina."
(Q. S. Saba'; 14)


Oleh karena itu, barangsiapa mengaku dapat mengetahui perkara ghaib yang sebenarnya, berarti dia mendustakan Allah, mendustakan kenyataan dan mendustakan manusia banyak.

Sebahagian utusan pernah datang ke tempat Nabi, mereka menganggap bahwa Nabi adalah salah seorang yang mengaku dapat mengetahui perkara ghaib. Kemudian mereka menyembunyikan sesuatu di tangannya dan berkata kepada Nabi: Tahukah tuan apakah ini? Maka Nabi menjawab dengan tegas:
"Aku bukan seorang tukang tenung, sebab sesungguhnya tukang tenung dan pekerjaan tenung serta seluruh tukang tenung di neraka."


Percaya Kepada Tukang Tenung, Kufur

Secara umum profesi "dukun" sebenarnya telah memiliki konotasi buruk sejak zaman jahiliyah, sehingga tatkala orang-orang musrik jahiliyah ingin menjauhkan manusia dari Nabi, mereka sebarkan isu dan mereka memberikan gelar "kahin" (dukun) atau "sihir" (tukang sihir) agar orang-orang manjauh dari Nabi. Begitu pula tatkala datangnya cahaya Islam, tukang sihir dan dukun menempati track record yang buruk dalam pandangan Islam.

Di jaman modern ini dukun lebih dikenal dengan istilah ngetrennya "paranormal", dan keberadaan mereka mendapat tempat terhormat dalam masyarakat baik yang berprofesi sebagai tukang ramal, tukang sulap, pemimpin adat sampai pada dukun yang melakukan pengobatan alternatif yang menggunakan jin sebagai prewangan (khadam/partner).

Islam tidak membatasi dosa hanya kepada tukang tenung dan pendusta saja, tetapi seluruh orang yang datang dan bertanya serta membenarkan mistake (baca: mistik) dan kesesatan mereka itu akan bersekutu dalam dosa. Sebagaimana sabda Nabi SAW:
"Barangsiapa datang ke tempat juru ramal, kemudian bertanya tentang sesuatu dan membenarkan apa yang dikatakan, maka sembahyangnya tidak akan diterima selama 40 hari."
(HR. Muslim)

"Barangsiapa datang ke tempat tukang tenung, kemudian mempercayai apa yang dikatakan, maka sungguh dia telah kufur terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad SAW."
(Riwayat Bazzar dengan sanad yang baik dan kuat)

Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad itu mengatakan, bahwa hanya Allahlah yang mengetahui perkara ghaib, sedang Muhammad sendiri tidak mengetahuinya, apalagi orang lain. Firman Allah:
"Katakanlah! Saya tidak berkata kepadamu, bahwa saya mempunyai perbendaharaan Allah, dan saya tidak dapat mengetahui perkara ghaib, dan saya tidak berkata kepadaku bahwa saya adalah maaikat, tetapi saya hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku."
(Q. S. Al-An'a m: 50)

Para Dukun Mendapat Informasi dari Jin

"Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Abdillah dari Hisyam bin Yusuf dari Ma'mar dari Az-Zuhri dari Urwah bin Zubeir dari Aisyah r.a. berkata, "Orang-orang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang para dukun," beliau bersabda, "Tidak ada apa-apanya." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, mereka kadang-kadang bisa menceritakan sesuatu yang benar kepada kami. Maka Rasulullah SAW bersabda, "Kalimat tersebut berasal dari kebenaran yang dicuri oleh jin, kemudian dibisikkan ke telinga para walinya (dukun). Maka para dukun tersebut mencampurkan kalimat yang benar tersebut dengan seratus kedustaan."
(HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Hadits tersebut sejara jelas membuka kedok dan rahasia "keampuhan" dukun yang banyak mengecoh orang-orang yang menyandarkan harapan, keselamatan dan kebahagiaan hidupnya kepada selain Allah. Dalam hadits ini terungkap pula teka-teki di balik kemampuan dukun yang terkadang dapat menebak peristiwa yang akan terjadi. Dijelaskan pula dalam hadits ini dari mana sumber ilmu paranormal (dukun).

Pelajaran yang dapat dipetik dari petunjuk Rasulullah SAW tersebut diatas adalah:

Terkadang dukun mendapat kabar yang benar dari jin. Akan tetapi kedustaan yang dibawa sebenarnya jauh lebih besar dan lebih sering

Imam Bukhari meriwayatkan pula dalam bab lain, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Apabila Allah memutuskan perkara di langit, para malaikat memukul-mukulkan sayapnya dalam keadaan tunduk mendengarkan firman Allah laksana gemerincingnya rantai besi yang terjatuh pada batu yang licin. Maka rasa takut telah hilang dari hati malaikat, mereka bertanya: Apa yang telah ditetapkan oleh Rabbmu? Malaikat menjawab kepada yang lain, "Allah berfirman tentang kebenaran, sedangkan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar. Maka di saat ada setan-setan pencuri dengan membentuk formasi demikian (yakni bertumpuk satu sama lain), Sufyan memperagakan dengan menyusun telapak tangannya dan membentangkan jari-jarinya.

Kemudian setan pencuri dengar itu berhasil mencuri dengar kalimat yang benar, lalu ia sampaikan kepada setan di bawahnya, setan yang dibawahnya tersebut mengabarkan lagi kepada yang dibawahnya lagi sampai akhirnya yang paling bawah menyampaikan hingga sampai ke lidah tukang sihir atau dukun. Bisa jadi sebelum setan sempat menyampaikan berita yang benar tersebut keburu disambar oleh bintang api. Tetapi boleh jadi pula setan berhasil menyampaikan hasil curiannya sebelum disambar api. Kemudian setan menambahi kalimat yang benar tersebut dengan seratus kedustaan. Lalu dikatakan oleh orang-orang: "Bukankah ia (dukun) telah mengatakan kita hari begini dan begini, demikian dan demikian? Maka dukun pun dipercaya karena kalimat yang benar yang dicuri dari langit." (HR. Bukhari).

Kebanyakan manusia cenderung lebih mudah tergoda untuk menerima kebatilan. Jika sekali saja dukun terbukti benar, maka jiwa akan terpengaruh untuk selalu menganggap setiap apa yang dikatakan dukun adalah benar, sementara mereka melupakan kedustaan-kedustaan yang telah mereka perbuat

Taruhlah seorang dukun meramal sebanyak seratus kali, lalu jin yang bekerja untuknya berhasil mencuri dengar sekali saja, hingga dia memberitahukan sesuatu yang benar. Maka hal ini mengandung ketakjuban banyak orang higga dikiranya setiap kali dia ngomong mesti benar. Padahal yang benar hanya satu persen, sekian persennya "kebetulan" benar dan sekian persen lagi salah.

Contoh yang sangat mudah, mendekati tanggal 9-9-1999 yang lalu para dukun, tukang ramal atau paranormal mensosialisasikan besar-besaran, diantaranya lewat tabloid posmo, bahwa hari itu adalah hari kiamat. Ada pula yang meramalkan Soeharto meninggal ditembak pada tahun 2000 dan sebagainya yang ternyata jauh dari kenyataan. Namun alangkah anehnya, orang-orang belum merasa jera dan kapok dikibuli oleh para penipu itu.

Tepatnya ramalan dukun bukanlah indikasi benarnya perbuatan tersebut secara syar'i

Dari pintu inilah banyak orang-orang jahil tergelincir, jika apa yang mereka usahakan yakni dengan mendatangi dukun jika kebetulan terwujud, mereka menyangka bahwa hal itu merupakan indikasi keridlaan Allah karen tercapainya cita-citanya. Hal ini pula yang menggeincirkan banyak orang yang berdo'a dengan cara-cara bid'ah dan syirik seperti berdo'a kepada Allah melalui perantara penghuni kuburan nenek moyangnya atau orang shaleh. Ketika kebetulan tercapai, mereka menyangka bahwa apa yang mereka tempuh berarti benar dan diridlaai Allah, padahal bisa jadi hal itu adalah istidraj, Allah SWT berfirman, yang artinya:
"Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang kami berikan kepada mereka itu berarti Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sesungguhnya mereka tidak sadar."
(Q. S. Al-Mukmin: 55-56)

Kesimpulannya, bahwa tepatnya ramalan dukun, tercapainya tujuan melalui perantaraan dukun ataupun terkabulnya do'a bukanlah merupakan indikasi keridlaan Allah dan lurus di atas syare'at.

Kalau seorang muslim telah mengetahui persoalan ini dari Al-Qur'an yang telah menyatakan begitu jelas, kemudian dia percaya, bahwa sementara manusia ada yang dapat menyingkap tabir qadar, dan mengetahui seluruh rahasia tersembunyi, maka berarti telah kufur terhadap wahyu diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Sisi Kelam Kehidupan Para Dukun

Tidak banyak orang yang tahu bahwa di balik keampuhan dan kesaktian para dukun, ternyata ada sisi kelam dalam kehidupan mereka di dunia dan juga di akherat (jika mereka tidak bertaubat).

Bagaimana tidak untuk dapat bernego dengan para jin yang menjadi mitra kerjanya itu mereka harus rela menggadaikan kebahagiaan akheratnya dengan cara menanggalkan tauhid.

Bukan rahasia lagi bahwa untuk memperoleh kapasitas ilmu klenik yang tinggi mereka harus melakukan bentuk kesyirikan, kezaliman ataupun kemaksiatan kepada Allah. Ada yang menyembelih untuk jin, ada yang menjadikan para gdis sebagai tumbal, ada yang harus melakukan puasa-puasa bid'ah dan bahkan ada yang harus menjadikan mushaf Al-Qur'an sebagi alas kaki tatkala buang air besar, inna lillaahi wa inna ilaihi raji'uun.


Mengadu Nasib dengan Azlam

Dengan hikmah yang telah kami sebutkan di atas, Islam mengharamkan mengadu nasib dengan azlam.
Azlam disebut juga qadah, yaitu semacam anak panah yang biasa dipakai oleh orang-orang Arab jahiliah, sebanyak tiga buah:
Pertama, tertulis: aku diperintah Tuhan.
Kedua, tertulis: aku dilarang Tuhan.
Ketiga, kosong.

Kalau mereka bermaksud akan bepergian atau kawin dan sebagainya mereka pergi ke tempat berhala yang di situ ada azlam, kemudian mereka mencari untuk mengetahui apa yang akan diberikan kepada mereka itu dalam hal bepergian, peperangan dan sebagainya dengan jalan mengundi tiga batang anak panah tersebut. Kalau yang keluar itu panah yang tertulis aku diperintah Tuhan, maka dia laksanakan kehendaknya itu. Dan jika yang keluar itu anak panah yang tertulis aku dilarang Tuhan, maka mereka bekukan rencananya itu. Tetapi kalau yang keluar anak panah kosong, maka mereka ulangi beberapa kali, sehingga keluarlah anak panah yang memerintah atau yang melarang.

Yang sama dengan ini, yaitu apa yang kini berlaku, masyarakat kita, seperti bertenung dengan menggaris-garis tanah, pergi ke kubur, membuka Al-Qur'an, membaca piring dan sebagainya. Semua ini perbuatan mungkar yang oleh Islam diharamkan.

Setelah menyebutkan beberapa macam makanan yang diharamkan, kemudian Allah berfirman sebagai berikut:
"(Dan

diharamkan juga) kamu mengetahui nasib dengan mengundi, bahwa yang demikian itu perbuatan fasik."
(Q. S. Al-Maidah: 3)

Dan sabda Nabi:

"Tidak akan mencapai derajat yang tinggi orang yang menenung, atau mengetahui
nasib dengan mengundi, atau menggagalkan bepergiannya karena percaya kepada
alamat (tathayyur)."
(HR. Nasa'i)


Mengenai hal ini, telah membudaya di kalangan masyarakat Indonesia, bahwa setiap melaksanakan sesuatu yang penting, maka menggunakan perhitungan hari baik dan hari nahas. Jika hari nahas, maka pantang baginya melakukan sesuatu kegiatan tertentu yang penting. Dan jika hendak bepergian tetapi mendengar bacaan kitab yang menyatakan banyak halangan, kemudian tidak jadi pergi, ini bagian tradisi masyarakat yang masih kental. Dan tentunya tradisi semacam ini perlu ditinggalkan demi kemurnian tauhid dalam beragama.


Sihir

Islam menentang keras perbuatan sihir dan tukang sihir. Tentang orang yang belajar ilmu sihir, Allah SWT telah berfirman:
"Mereka belajar suatu ilmu yang membahyakan diri mereka sendiri dan tidak bermanfaat buat mereka."
(Q.S Al-Baqarah: 102)

Rasulullah SAW menilai sihir sebagai salah satu dari pada dosa besar yang bisa merusak dan menghancurkan sesuatu bangsa sebelum terkena kepada pribadi seseorang, dan dapat menurunkan derajat pelakunya di dunia ini sebelum pindah ke akhirat Justru itu Nabi bersabda:
"Jauhilah tujuh perkara besar yang merusak. Para sahabat bertanya: Apakah tujuh perkara itu, ya Rasulullah? Jawab Nabi, yaitu:
1) menyekutukan Allah;
2) sihir;
3) membunuh jiwa yang oleh Allah diharamkan kecuali karena hak;
4) makan harta riba;
5) makan harta anak yatim,
6) lari dari peperangan;
7) menuduh perempuan-perempuan baik, terjaga dan beriman."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Sebahagian ahli fiqih menganggap, bahwa sihir itu berarti kufur, atau membawa kepada kufur.
Sementara ada juga yang berpendapat: ahli sihir itu wajib dibunuh demi melindungi masyarakat dari bahaya sihir.
AI-Qur'an juga telah mengajar kita supaya kita suka, berlindung diri kepada Allah dari kejahatan tukanq sihir, yaitu firman-Nya:
"(Dan aku berlindung diri) dari kejahatan tukang meniup simpul."
(Q.S Al-Falaq:4)

Peniup simpul salah satu cara dan ciri yang dilakukan ahli-ahli sihir. Dalam salah satu hadis dikatakan :
"Barang siapa ,meniup simpul, maka sungguh ia telah mensihir, dan barang siapa mensihir maka sungguh ia telah berbuat sirik."
(HR. Thabarani dengan dua sanad salah satu rawi-rawinya kepercayaan)

Sebagaimana halnya Islam telah mengharamkan pergi Ke tempat dukun untuk menanyakan perkara-perkara ghaib,maka begitu juga Islam mengharamkan perbuatan sihir atau pergi ke tukang sihir untuk mengobati suatu penyakit yang telah dicubakan kepadanya, atau untuk mengatasi suatu problema yang dideritanya. Cara-cara semacam ini tidak diakuinya oleh Nabi sebagai golongannya. Sebagaimani sabdanya:
"Tidak termasuk golongan kami, barangsiapa yang mengangap sial karena alamat (tathayyur) atau minta ditebak kesialannya dan menenung atau minta ditenungkan atau mensihir atau minta disihirkan."
(HR.Bazzar dengan sanad yang baik)

lbnu Mas'ud juga pernah berkata:
"Barangsiapa pergi ke tukang ramal, atau ke tukang sihir atau ke tukang tenung, kemudian ia bertanya dan percaya terhadap apa yang dikatakannya, maka sungguh dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW."
(Riwayat Bazzar dan Abu Ya'la dengan sanad yang baik)

Dan bersabda pula Rasulullah SAW:
"Tidak akan masuk syorga pencandu arak, dan tidak pula orang yang percaya kepada sihir dan tidak pula orang yang memutuskan silaturrahmi."
(Riwayat lbnu Hibban)

Haramnya sihir di sini tidak hanya terbatas kepada si tukang sihirnya saja, bahkan meliputi setiap yang percaya kepada sihir dan percaya kepada apa yang dikatakan oleh si tukang sihir itu. Lebih hebat lagi haram dan kejahatannya apabila sihir itu dipergunakan untuk tujuan-tujuan yang haram, seperti menceraikan antara suami-isteri, mengganggu seseorang dan sebagainya yang biasa dikenal di kalangan ahli-ahli sihir.

Sumber:
Al-Halal Wal Haram Fil Islam, Syaikh Muhammad Yusuf Qardhawi
Rahasia Keampuhan Dukun dan Pandangan Islam Terhadapnya, Abu Umar Abdillah


Copyright © 2007. santridalnet@crew. All rights reserved. Hak Cipta DiLindungi Allah Azza Wa Jalla Yang Maha Kuasa