AHLAN WA SAHLAN Selamat Datang di blog SantriChannel, yang menyajikan Tulisan-tulisan yang berkaitan dengan ke-santri-an, bernuansa Islami berisikan Hikmah Al-qur'an dan Mutiara Hadits, semoga Blog yang sederhana ini dapat memberikan peningkatan ketaqwaan, kesejukan hati dan ketentraman jiwa, serta menjaga silaturrahmi kita yang tidak pernah terputus. Agar kita benar-benar dapat melakoni apa yang ditetapkan dan disarankan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Kelangsungan Dakwah kami ini beriringan dengan channel #santri di server mIRC DALnet.
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 November 2007

Hikmah dibalik Haramnya Lelaki Memakai Emas dan Sutera

Di haramkannya dua perkara tersebut terhadap laki-laki, Islam bermaksud kepada suatu tujuan pendidikan moral yang tinggi; sebab Islam sebagai agama perjuangan dan kekuatan, harus selalu melindungi sifat keperwiraan laki-laki dari segala macam bentuk kelemahan, kejatuhan dan kemerosotan.
Seorang laki-laki yang oleh Allah telah diberi keistiwaan susunan anggotanya yang tidak seperti susunan keanggotaan wanita, tidak layak kalau dia meniru wanita-wanita ayu yang melabuhkan pakainnya sampai ketanah dan suka bermegah-megah dengan perhiasan dan pakaian.

Dibalik itu ada tujuan sosial. Yakni, bahwa diharamkannya emas dan sutera bagi laki-laki adalah salah satu bagian dari pada program Islam dalam rangka memberantas hidup bermewah-mewahan. Hidup bermewah-mewahan dalam pandangan Al-qur'an adalah sama dengan suatu kemerosotan yang akan menghancurkan sesuatu umat. Hidup bermewah-mewahan adalah merupakan manifestasi kejahatan sosial, dimana segolongan kecil bermewah-mewahan dengan cincin emas atas biaya golongan banyak yang hidup miskin lagi papa. Sesudah itu dilanjutkan dengan suatu sikap permusuhan terhadap setiap ajakan yang baik dan memperbaiki.

Dalam hal ini Al-qur'an telah menyatakan:

"Dan apabila kami hendak menghancurkan suatu desa, maka kami perbanyak orang-orang yang bergelimang dalam kemewahan, kemudian mereka itu berbuat fasik didesa tersebut, maka akan terbuktilah atas desa tersebut suatu ketetapan, kemudian kami hancurkan desa tersebut dengan sehancur-hancurnya."
(Q. S. Al-Isra': 16)

Dan firman Allah pula:

"Kami tidak mengutus di suatu desa, seorang pun utusan (Nabi) melainkan akan berkatalah orang-orang yang bergelimang dalam kemewahan itu: Sesungguhnya kami tidak percaya dengan kerasulanmu itu."
(Q. S. Saba': 34)

Untuk menerapkan jiwa Alqur'an ini, Maka Nabi Muhammad s.a.w. telah mengharamkan seluruh bentuk kemewahan dengan segala macam manifestasinya dalam kehidupan seorang Muslim.

Seabagaimana diharamkannya emas dan sutera terhadap laki-laki, maka begitu juga diharamkan untuk semua laki-laki dan perempuan menggunakan bejana emas dan perak. Sebagaimana akan tersebut nanti.

Dan di balik itu semua, dapat pula ditinjau dari segi ekonomi, bahwa emas adalah standart yang international. Oleh karena itu tidak patut kalau bejana atau perhiasan buat orang laki-laki.

Hikmah dibolehkannya untuk Wanita
Dikecualikannya kaum wanita dari hukum ini adalah untuk memenuhi perasaan, sesuai dengan tuntutan sifat kewanitaannya dan kecenderungan fitrahnya kepada suka berhias; tetapi dengan syarat tidak boleh berhias yang dapat menarik kaum pria dan membangkitkan syahwat.

Untuk itu maka dalam hadis Nabi di terangkan:

"Siapa saja perempuan yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka itu mencium baunya, maka perempuan tersebut dianggap berzina; dan tiap-tiap mata ada zinanya."
(HR. Nasai, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu hibban)

Dan firman Allah yang mengatakan:

"Dan janganlah perempuan-perempuan itu memukul-mukulkan kakinya ditanah, supaya diketahui apa yang mereka sembunyikan dari perhiasannya." (Q. S. An-Nur: 31)

Selasa, 06 November 2007

Menggapai Ketenangan Jiwa

Dalam perkembangan hidupnya, manusia seringkali berhadapan dengan berbagai masalah yang mengatasinya berat. Akibatnya timbul kecemasan, ketakutan dan ketidaktenangan, bahkan tidak sedikit manusia yang akhirnya kalap sehingga melakukan tindakan-tindakan yang semula dianggap tidak mungkin dilakukannya,
baik melakukan kejahatan terhadap orang lain seperti banyak terjadi kasus pembunuhan termasuk pembunuhan terhadap anggota keluarga sendiri maupun melakukan kejahatan terhadap diri sendiri seperti meminum minuman keras dan obat-obat terlarang hingga tindakan bunuh diri.

Makanya, ketenangan dan kedamaian jiwa sangat diperlukan dalam hidup ini yang terasa kian berat dihadapinya. Itu sebabnya, setiap orang ingin memiliki ketenangan jiwa. Dengan jiwa yang tenang kehidupan ini dapat dijalani secara teratur dan benar sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Untuk bisa menggapai ketenangan jiwa, banyak orang yang mencapainya dengan cara-cara yang tidak Islami, sehingga bukan ketengan jiwa yang didapat tapi malah membawa kesemrautan dalam jiwanya itu. Untuk itu, secara tersurat, Al-Qur'an menyebutkan beberapa kiat praktis.

1. Dzikrullah.

Dzikir kepada Allah Swt merupakan kiat untuk menggapai ketenangan jiwa, yakni dzikir dalam arti selalu ingat kepada Allah dengan menghadirkan nama-Nya di dalam hati dan menyebut nama-Nya dalam berbagai kesempatan. Bila seseorang menyebut nama Allah, memang ketenangan jiwa akan diperolehnya. Ketika berada dalam ketakutan lalu berdzikir dalam bentuk menyebut ta'awudz (mohon perlindungan Allah), dia menjadi tenang. Ketika berbuat dosa lalu berdzikir dalam bentuk menyebut kalimat istighfar atau taubat, dia menjadi tenang kembali karena merasa telah diampuni dosa-dosanya itu. Ketika mendapatkan kenikmatan yang berlimpah lalu dia berdzikir dengan menyebut hamdalah, maka dia akan meraih ketenangan karena dapat memanfaatkannya dengan baik dan begitulah seterusnya sehingga dengan dzikir, ketenangan jiwa akan diperoleh seorang muslim, Allah berfirman yang artinya: "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram ."(13:28).
Untuk mencapai ketenangan jiwa, dzikir tidak hanya dilakukan dalam bentuk menyebut nama Allah, tapi juga dzikir dengan hati dan perbuatan. Karena itu, seorang mu'min selalu berdzikir kepada Allah dalam berbagai kesempatan, baik duduk, berdiri maupun berbaring.

2. Yakin Akan Pertolongan Allah.

Dalam hidup dan perjuangan, seringkali banyak kendala, tantangan dan hambatan yang harus dihadapi, adanya hal-hal itu seringkali membuat manusia menjadi tidak tenang yang membawa pada perasaan takut yang selalu menghantuinya. Ketidaktenangan seperti ini seringkali membuat orang yang menjalani kehidupan menjadi berputus asa dan bagi yang berjuang menjadi takluk bahkan berkhianat.
Oleh karena itu, agar hati tetap tenang dalam perjuangan menegakkan agama Allah dan dalam menjalani kehidupan yang sesulit apapun, seorang muslim harus yakin dengan adanya pertolongan Allah dan dia juga harus yakin bahwa pertolongan Allah itu tidak hanya diberikan kepada orang-orang yang terdahulu, tapi juga untuk orang sekarang dan pada masa mendatang, Allah berfirman yang artinya: "Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tentram hatimu karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (3:126, lihat juga QS 8:10).
Dengan memperhatikan betapa banyak bentuk pertolongan yang diberikan Allah kepada para Nabi dan generasi sahabat dimasa Rasulullah Saw, maka sekarangpun kita harus yakin akan kemungkinan memperoleh pertolongan Allah itu dan ini membuat kita menjadi tenang dalam hidup ini. Namun harus kita ingat bahwa pertolongan Allah itu seringkali baru datang apabila seorang muslim telah mencapai kesulitan yang sangat atau dipuncak kesulitan sehingga kalau diumpamakan seperti jalan, maka jalan itu sudah buntu dan mentok. Dengan keyakinan seperti ini, seorang muslim tidak akan pernah cemas dalam menghadapi kesulitan karena memang pada hakikatnya pertolongan Allah itu dekat, Allah berfirman yang artinya: "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah rasul dan orang-orang yang beriman: "bilakah datangnya pertolongan Allah?". Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS 2:214).

3. Memperhatikan Bukti Kekuasaan Allah.

Kecemasan dan ketidaktenangan jiwa adalah karena manusia seringkali terlalu merasa yakin dengan kemampuan dirinya, akibatnya kalau ternyata dia merasakan kelemahan pada dirinya, dia menjadi takut dan tidak tenang, tapi kalau dia selalu memperhatikan bukti-bukti kekuasaan Allah dia akan menjadi yakin sehingga membuat hatinya menjadi tentram, hal ini karena dia sadari akan besarnya kekuasaan Allah yang tidak perlu dicemasi, tapi malah untuk dikagumi. Allah berfirman yang artinya: "Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati". Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?". Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tenang (tetap mantap dengan imanku)". Allah berfirman: ("kalau begitu) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah, kemudian letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS 2:260).

4. Bersyukur.

Allah Swt memberikan kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang amat banyak. Kenikmatan itu harus kita syukuri karena dengan bersyukur kepada Allah akan membuat hati menjadi tenang, hal ini karena dengan bersyukur, kenikmatan itu akan bertambah banyak, baik banyak dari segi jumlah ataupun minimal terasa banyaknya. Tapi kalau tidak bersyukur, kenikmatan yang Allah berikan itu kita anggap sebagai sesuatu yang tidak ada artinya dan meskipun jumlahnya banyak kita merasakan sebagai sesuatu yang sedikit.

Apabila manusia tidak bersyukur, maka Allah memberikan azab yang membuat mereka menjadi tidak tenang, Allah berfirman yang artinya: "Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rizkinya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat."(QS 16:112).

5. Tilawah, Tasmi' dan tadabbur Al-Qur'an.

Al-Qur'an adalah kitab yang berisi sebaik-baik perkataan, diturunkan pada bulan suci Ramadhan yang penuh dengan keberkahan, karenanya orang yang membaca (tilawah), mendengar bacaan (tasmi') dan mengkaji (tadabbur) ayat-ayat suci Al-Qur'an niscaya menjadi tenang hatinya, manakala dia betul-betul beriman kepada Allah Swt, Allah berfirman yang artinya: "Allah telah menurunkan perkataan yang baik (yaitu) Al-Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhanya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya." (QS 39:23).
Oleh karena itu, sebagai mu'min, interaksi kita dengan al-Qur'an haruslah sebaik mungkin, baik dalam bentuk membaca, mendengar bacaan, mengkaji dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Manakala interaksi kita terhadap Al-Qur'an sudah baik, maka mendengar bacaan Al-Qur'an saja sudah membuat keimanan kita bertambah kuat yang berarti lebih dari sekedar ketenangan jiwa, Allah berfirman yang artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal."(QS 8:2).

Dengan berbekal jiwa yang tenang itulah, seorang muslim akan mampu menjalani kehidupannya secara baik, sebab baik dan tidak sesuatu seringkali berpangkal dari persoalan mental atau jiwa. Karena itu, Allah Swt memanggil orang yang jiwanya tenang untuk masuk ke dalam syurga-Nya, Allah berfirman yang artinya: "Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam syurga-Ku."(QS 89:27-30).

Minggu, 04 November 2007

5 Jurus Penangkal Stress


Teman-teman Santri sekalian yang dimuliakan Allah. Penyakit yang namanya Stress termasuk salah satu penyakit dengan rating tertinggi hinggap kepada banyak manusia. Faktornya sih bisa macam-macam, entah itu karena pekerjaan, masalah pribadi, pendidikan, ekonomi atau beraneka macam faktor-faktor lainnya.

Bagi kita yang hidup di negeri orang, yang jauh dari keluarga, yang tidak ada teman bercanda dan bersenda-gurau peluang terkena serangan stress jauh lebih besar dari pada yang tinggal di negeri sendiri. Sering untuk mengurangi stress, orang lantas mengambil jalan pintas, minum obat-obat penenang, dilarikan pada alkhohol, ganja dan lain-lainnya. Bahkan, yang konyol, ada yang berpendapat, bahwa stress adalah persoalan hidup yang nggak pernah selesai selama manusia hidup, sehingga akhirnya ditempuh jalan pintas yang lain, bunuh diri .. na'udzubillahi min dzalik....

Rekan-rekan santri sekalian, Islam sebagai agama, sebagai Ad Deen, tidaklah melulu hanya mengatur bagaimana cara seorang hamba mengabdikan diri kepada Khaliknya saja. Islam sebagai cara hidup, juga memberikan pedoman, bagaimana seharusnya seorang Muslim berperilaku terhadap sesamanya, bagaimana bila seorang muslim menghadapi persoalan yang rumit, yang tak terselesaikan, yang menimbulkan stress. Tulisan kami kali ini, adalah ingin memberikan solusi bagaimana seharusnya jalan yang kita tempuh, pada saat-saat kita dihadapkan pada persoalan yang membelit pikiran, berdasarkan cara-cara yang Islami, yang dikembangkan menjadi tradisi bagi kebanyakan orang yang hidup dalam lingkungan pesantren.

Kalau kita ada kesempatan untuk berjalan-jalan dipelosok desa di Jawa Timur, kemudian menyempatkan diri untuk ikut sholat magrib berjamaah, maka sebelum sholat dimulai, biasanya dialunkan puji-pujian, entah itu berupa sholawat, doa, dalam bahasa Arab ataupun dalam bahasa Jawa.

Salah satu puji-pujian yang terkenal, adalah yang bejudul "Tombo Ati" yang artinya kurang lebih " Obat hati". Syair tersebut kurang lebih demikian bunyinya.

" Tombo ati iku limo wernane, ingkang dihin moco Al Qur'an sak maknane' kaping pindo dzikir ingkang suwe, kaping telu ngempet weteng kroso luwe, kaping papat sholat wengi lakonono, kaping limo sedulur muslim sambangono, sapa bisa ngelakoni salah siji, Insya Allah huta' a'la nyembadani "

Sekarang mari kita telusuri satu persatu tentang syair itu, bagaimanakah "obat hati" ala Islami yang sangat manjur itu.

1. Yang pertama adalah membaca Al Qur'an dengan disertai pemahaman maknanya.
Al Qur'an adalah bacaan yang paling cocok dalam segala suasana. Pada saat kita gembira, maka peringatan-peringatan yang ada dalam Al Qur'an akan mampu menjadi pengerem agar kita tak lupa diri. Demikian pula halnya pada saat kita sedih, maka dengan membaca Al Qur'an terasa sekali dalam lubuk hati kita sentuhan kesejukan dari Firman Allah SWT. Kala kita gagal dalam mencapai sesuatu, maka pesan-pesan dalam Al Qur'an akan mampu menawarkan kesedihan yang ada dalam hati kita. Dengan membaca Al Qur'an, semangat yang hampir pudar karena kegagalan insya Allah akan berangsur pulih kembali.

Firman Allah dalam surat Al Israa' ayat 82
" Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman ...."

2. Yang kedua adalah dengan berdzikir yang lama. Allah SWT berfirman

" ..ingatlah, hanya dengan mengingat Allah.lah hati menjadi tenang " QS. Ar Rad 28

Kenapa dengan berdzikir ?
Sebab dengan mengingat Allah, maka timbulah tawakkal dan penyerahan diri kita kepada Allah. Dan kalau toh apa yang hendak kita raih tersebut luput terpegang tangan, maka dengan kembali mengingat Allah, sadarlah kita, mungkin apabila keinginan kita tersebut terkabul, justru mudharotlah yang datang. Dengan demikian yang muncul bukanlah rasa kecewa dan penyesalan, akan tetapi justru syukur yang dalam pada Allah. Bukankah Allah yang saling mengetahui keadaan dan kemampuan kita ?

3. Yang ketiga adalah dengan puasa.
Salah satu hikmah puasa, disamping dapat menimbulkan perasaan sosial terhadap sesama, adalah untuk kesehatan. Bukti-bukti cukup banyak, bahwa orang orang yang mengidap mag, malah sembuh bila berpuasa, padahal menurut ilmu kedokteran seharusnya orang yang mengidap mag menjaga makannya agar teratur dan tidak telat. Penulis sendiri juga mengalami, gangguan pencernaan yang tak kunjung reda, malah sembuh dengan membiasakan puasa sunah. Ditinjau dari segi kejiwaanpun puasa ternyata mempunyai efek yang baik sekali. sebab dengan puasa, secara tidak langsung seseorang dilatih untuk dapat mengendalikan tuntutan hawa nafsu yang cenderung untuk melakukan hal-hal yang sesat. Dilain pihak, dengan berpuasa, seseorang akan jadi merasa lebih dekat dengan Allah, sehingga merasa lebih aman dan tenteram.

4. Yang ke empat ialah shalat malam.
Shalat tahajut, meskipun tidak wajib, tetapi sangat dianjurkan untuk melakukannya. Banyak ayat dalam Al Qur'an yang menujukkan betapa penghargaan Tuhan terhadap hamba-hambaNya yang datang menemuiNya, pada saat hamba-hamba yang lain lelap dalam tidur. Allah menjajikan, terhadap orang-orang yang bersegera menuju keridhaanNya, suatu derajat yang tinggi.
" Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajutlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji " QS Al Israa' 79

5. Yang kelima ialah mengunjungi saudara sesama muslim (silaturrahmi).
Banyak sekali hikmah yang dapat dikaji dari silaturahmi terhadap sesama saudara muslim ini. Dengan bersilaturami, maka ukhuwah yang hampir retak akan kembali utuh. Dengan bersilaturami, maka berbagai persoalan yang membelit kepala insya Allah akan dapat dicarikan penyelesaiannya. Dengan bersilaturahmi, kita dapat saling berbagi suka dan duka, berbagi kesedihan, mencurahkan perasaan, sehingga beban berat yang menghimpit, akan terasa lebih ringan, karena kita tidak sendiri. Disamping itu, saling pesan dalam kebenaran dan kesabaran hanya mungkin terlaksana apabila tali ukhuwah tetap terjalin. Tersebut dalam Hadist riwayat Abu Dawud, Rasulullah SAW bersabda :

" Diantara hamba-hamba Allah ada sekelompok orang yang bukan nabi dan syuhada, tetapi para nabi dan syuhada merasa tergiur dengan keadaan mereka,karena kedudukannya yang mulia di sisi Allah. Para sahabat bertanya, " Wahai Rasulullah, siapakah mereka itu ?". Jawab beliau : "Mereka adalah sekelompok orang yang memadu cinta kasih dalam mencari keridhaan Allah, yang diantara mereka tidak ada hubungan kerabat dan tidak ada tujuan duniawi. Demi Allah, wajah mereka bercahaya, sedangkan mereka tidak merasa khawatir dan takut ketika orang lain dilanda perasaan khawatir dan takut. Mereka tidak berduka cita ketika orang lain menderita "

Demikianlah rekan-rekan santri yang di muliakan ALLAH, lima macam resep pengusir kegundahan hati. Insya Allah bila kita dapat melaksanakan salah satu dari ke lima diatas, Allah akan menghapus segala kesedihan dan kegundahan dari hati kita. Akhirnya, marilah kita berdoa agar Allah senantiasa memberi kita kekuatan, memberi kita kelapangan, sehingga kita dapat meniti kehidupan ini dengan segala perasaan damai, dengan tenteram dan dijauhkan dari persoalan-persoalan yang membelit jiwa.

Marilah saudaraku, kita datangi apa yang disunahkan Allah setelah kita melaksanakan apa yang diwajibkanNya. Insya Allah, dengan memperbanyak melakukan yang sunnah akanlah dapat kita rasakan, bagaimana sejuk dan manisnya buah iman, sehingga agama yang kita peluk ini, tidak tampak sebagai rentetan kewajiban dan larangan, saja, akan tetapi penyejuk hati yang amat dibutuhkan setiap insan.

Wassalam,

Kata Mutiara

Beberapa kata-kata mutiara yang patut untuk di renungkan

Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya, sebab keelokan/paras dapat menyesatkan.
Jangan pula tertarik kepada kekayaannya karena kekayaan dapat musnah. Tertariklah kepada
seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, karena hanya senyum yang dapat membuat
hari-hari yang gelap menjadi cerah. Semoga kamu menemukan orang seperti itu.

Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan, pergilah ke tempat-tempat kamu
ingin pergi. Jadilah seperti yang kamu inginkan, karena kamu hanya memiliki satu
kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan.
Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang ukup untuk membuatmu baik hati,
cobaan yang cukup untuk membuatmu kuat, kesedihan yang cukup untuk membuatmu
manusiawi, pengharapan yang cukup untuk membuatmu bahagia dan uang yang cukup
untuk membeli segala keperluanmu

Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi acap
kali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu
lain yang bagi kita.

Sahabat terbaik adalah dia yang dapat duduk berayun-ayun di beranda bersamamu,
tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan kemudian kamu meninggalkannya dengan
perasaan telah bercakap-cakap lama dengannya.


Sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya,
tetapi sungguh benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai
kita mendapatkannya



Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dengan beberapa orang yang salah
sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia itu.

Masa depan yang cerah selalu tergantung pada masa lalu yang dilupakan.
Kamu tidak dapat hidup terus dengan baik jika kamu tidak melupakan kegagalan
dan sakit hati di masa lalu

Ada hal-hal yang sangat ingin kamu dengar tetapi tidak akan pernah kamu dengar
dari orang yang kamu harapkan untuk mengatakannya. Namun demikian, janganlah
menulikan telinga untuk mendengar dari orang yang mengatakannya dengan sepenuh hati.

Waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang di sekelilingmu tersenyum.
Jalanilah hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan
orang-orang di sekelilingmu menangis.

Antara Keadilan dan Kebencian

"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat pada ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Maaidah: 8)

Mempertemukan keadilan dan kebencian
dalam sebuah tulisan mungkin hal yang mudah, karena kita hanya tinggal menulis kedua kata-kata itu. Yang sulit adalah mempertemukan keadilan dengan kebencian dalam hati. Hampir dapat dipastikan bahwa keadilan akan menguap jika kebencian menguasai hati seseorang. Mau tak mau kita juga harus mengatakan bahwa inilah salah satu penyakit penegakkan hukum di negara ini, di samping hukumnya masih hukum jahiliyyah. Begitu juga sebaliknya, rasa cinta pada seseorang atau suatu kaum bisa menjadi penghalang tegaknya keadilan. Ditambah lagi dengan kesaksian palsu yang semakin sering dilakukan oleh orang-orang demi kepentingan tertentu. Sepertinya kejujuran hanya tinggal beberapa persen lagi dalam jiwa bangsa ini. Karena hampir setiap sektor kehidupannya sudah dirongrong oleh tipu-menipu, dusta, kepalsuan, dan kebohongan.

Oleh karena itu, dalam mengemban tugas menegakkan hukum Allah di muka bumi ini, orang-orang beriman diperintahkan oleh Allah Ta'ala untuk menegakkan keadilan dan kesaksian dengan benar dan adil karena Allah semata. Karena, motivasi lain selain itu akan menjerumuskan manusia ke dalam ketidakjujuran dan ketidakadilan. Akibatnya, kehancuran tatanan hidup yang manusiawi, penindasan dan kesewenang-wenangan akan merajalela. Otomatis kedamaian akan menjauh.

Adalah sulit memang bagi seorang hakim yang menyimpan kebencian terhadap terdakwa untuk memutuskan vonis yang adil, kecuali orang-orang beriman yang bertakwa kepada Allah, karena bagaimanapun ia pasti akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di akhirat kelak. Karena, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala yang dikerjakan oleh hamba-Nya. Tidak ada yang tersembunyi dari Allah sedikit pun. Maka, sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan seseorang Allah akan membalasnya, dan sekecil apa pun keburukan yang dilakukan seseorang Allah pasti membalasnya.

Inilah perbedaan Islam dengan demokrasi. Demokrasi menyuarakan bahwa keadilan demi rakyat. Padahal, dengan kekuasaan di tangan seorang penguasa akan dengan leluasa mengibuli rakyatnya. Seorang hakim akan leluasa mempermainkan hukum karena tidak ada yang ditakutinya. Rakyat? Ah, bisa dikibulin. Maka tak heran kalau banyak pemimpin menyuarakan demokrasi dengan penuh semangat. Dengan demokrasi seolah-olah rakyat diberi kedaulatan dan kebebasan, namun hakekatnya adalah hanya sekedar membesarkan hati rakyat bahwa mereka ikut terlibat dalam proses pembangunan bangsa dan negaranya, walaupun dalam peranan yang sesungguhnya mereka hampir tidak bisa berbuat apa-apa.

Jangan pernah mengharapkan keadilan jika hukum kita masih hukum jahiliyyah, jangan pernah mengharap keadilan jika aparat hukum kita masih orang-orang tak beriman tak bertakwa. Jangan mengharap keadilan jika mata kita masih silau melihat harta dan tahta.

Selanjutnya ,definisi keadilan tentunya berbeda-beda menurut setiap orang. Sehingga, tentunya tidak pernah memuaskan. Mereka akan terus berselisih, kecuali orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh pada hukum Allah.

Berbuat Baik DIsukai ALLAH

Dan berbuat baiklah (ihsan), karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Al-Baqarah: 195).

Ali bin al-Husain memiliki hamba sahaya perempuan.
" Suatu hari sang budak menuangkan air wudu untuknya. Tanpa disengaja, ceret, tempat air wudhu, jatuh menimba wajah Ali hingga terluka. Ali Zainal Abidin dengan marah menatap wajah sang budak. Merasa bersalah sang budak berkata, (mengutip surah Ali Imran ayat 134 yang menyebutkan kriteria orang bertakwa), "Sesungguhnya Allah berfirman, 'Wal kaazimiinal ghaidl,' (Dan orang yang menahan amarahnya)."
Ali menjawab, "Aku telah menahan amarahku."
Hamba sahaya berkata lagi, "Wal 'aafiina 'anin nas" (Dan orang-orang yang memberikan maafnya).
Ali menimpali, "Semoga Allah memaafkan kamu."
Ia berkata lagi, "Wallahu yuhibbul muhsiniin" (Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan).
Ali membalas, "Engkau telah kubebaskan karena Allah Azza wa Jalla." (Al-Bidayah IX/112).

Subhanallah! sungguh sebuah sikap yang mengagumkan. Amarah yang berhenti dalam sekejab karena dibacakan ayat, disusul pemberiaan maaf, bahkan pembebasan budak karena dorongan berbuat ihsan. Tercermin sebuah kematangan emosi, pengagungan akan ayat Allah, dan sikap memilih dan melakukan yang terbaik (ahsanahu).

Itulah profil muslim. Karena, Islam dibangun di atas tiga pilar: Islam, iman, dan ihsan. "Tadi adalah Malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan persoalan din kepada kalian." Itulah jawaban Rasulullah ketika malaikat datang dan bertanya perihal Islam, iman dan ihsan. Jadi, dinul Islam dibangun di atas ketiganya.

Perbuatan ihsan itu banyak bentuk dan ragamnya. Ihsan dalam hal ibadah, seperti jawaban Rasulullah saw. kepada Jibril, "Ihsan adalah hendaklah engkau beribadah kepada Allah seperti engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu." (HR Muslim). Ihsan dalam ibadah adalah adanya rasa selalu diawasi Allah Taala ketika menunaikannya, seolah ia melihat Allah, atau minimal merasakan bahwa Allah melihatnya. Untuk itu, harus dilakukan dengan menyempurnakan syarat, rukun, sunah dan tata-caranya. Karena, ibadah tidak akan dilihat oleh Allah jika menyelisihi tata-cara yang disyariatkan. Demikian ditulis oleh Abu Bakar al-Jazairi dalam Minhajul Muslim. Beliau juga menilis bentuk-bentuk berbuat ihsan dalam bidang muamalah, misalnya dengan berbuat baik kepada orang tua, sanak keluarga, anak yatim, orang miskin, musafir, pembantu, manusia secara umum dan hewan, seperti tersebut dibawah ini.

Berbuat baik kepada orang tua bisa dengan menaatinya, memberikan kebaikan kepada keduanya, tidak menyakiti keduanya, mendoakan keduanya, memintakan ampun untuk keduanya, melaksanakan wasiat-wasiat keduanya dan menghormati teman-teman keduanya.

Berbuat baik kepada sanak keluarga misalnya dengan menyayangi mereka, lemah lembut terhadap mereka, mengerjakan perbuatan baik bersama mereka, tidak melakukan tindakan-tindakan yang menyusahkan mereka dan tidak menjelek-jelakkan ucapan mereka.

Berbuat baik kepada anak yatim ialah dengan menjaga harta mereka, melindungi hak-hak mereka, mendidik mereka, membina mereka, tidak menyakiti mereka, tidak memaksa mereka, ceria di depan mereka, dan mengusap kepala mereka.

Berbuat baik kepada orang-orang miskin adalah dengan menghilangkan kelaparan mereka, menutup aurat mereka, menganjurkan manusia memberi makan kepada mereka, tidak mencaci kehormatan mereka, tidak menghina mereka, dan tidak menimpakan kesusahan kepada mereka.

Berbuat baik kepada musafir ialah dengan memenuhi kebutuhannya, menutup aibnya, menjaga hartanya, melindungi kemuliannya, memberinya petunjuk jika ia meminta petunjuk, dan menunjukkannya jika tersesat.

Berbuat baik kepada pembantu adalah dengan menggajinya sebelum keringatnya kering, tidak menyuruhnya mengerjakan pekerjaan yang tidak mampu dikerjakan, menjaga kemuliaannya, dan menghormati kepribadiannya. Jika pembantu tersebut menetap di rumah yang dibantu, baginya memberi makan seperti yang ia makan, memberi pakaian seperti yang ia kenakan.

Berbuat baik kepada manusia secara umum antara lain dengan berkata lembut kepada mereka, mempergauli mereka dengan pergaulan yang baik setelah sebelumnya menyuruh mereka kepada kebaikan, melarang mereka dari kemungkaran, memberi petunjuk kepada orang yang tersesat di antara mereka, mengajari orang jahil di antara mereka, mengakui hak-hak mereka, tidak mengganggu mereka dengan mengerjakan tindakan yang membahayakan mereka dan lain sebagainya.

Berbuat baik kepada hewan adalah dengan memberinya makan jika lapar, mengobatinya jika sakit, tidak membebani dengan muatan yang tidak mampu ditanggungnya, lemah lembut terhadapnya jika bekerja, dan mengistirahatkannya jika lelah.

Begitulah bentuk-bentuk ihsan. Semoga kita tergolong dalam barisan muhsinin yang dicintai Allah, seperti dalam firman di atas, "Dan berbuat baiklah (ihsan), karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Al-Baqarah: 195)

Sabtu, 03 November 2007

Orang Yang Patut Diikuti

"Dan janganlah kamu mengikuti yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melampaui batas."(Al-Kahfi: 28)

Adalah suatu keharusan bagi seorang hamba

yang ingin mengikuti orang lain untuk melihat dan mengetahui apakah orang itu termasuk orang yang selalu ingat kepada Allah atau termasuk orang yang lalai kepada-Nya. Apakah yang lebih berkuasa atas dirinya adalah hawa nafsunya ataukah wahyu. Jika yang berkuasa atas dirinya adalah hawa nafsunya, maka ia termasuk orang yang lalai dan melewati batas. Melampaui batas, kesia-siaan, berlebih-lebihan, kehancuran merupakan makna yang saling berdekatan.

Maksudnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala melarang menaati orang-orang yang menghimpun sifat-sifat yang disebutkan di atas. Orang yang pantas diikuti dan diteladani adalah orang yang taat dan saleh, tidak lalai akan pengawasan dan mengingat Allah dalam segala keadaan Adapun orang yang tidak pantas diikuti adalah orang yang selalu lalai dari mengingat Allah, selalu mengikuti hawa nafsunya dan berlebih-lebihan serta melampaui batas dalam segala perkaranya.

Kebanyakan generasi muda umat Islam saat ini kehilangan pegangan dan pedoman dalam menentukan panutan dan ikutan yang ditiru dan diteladani. Betapa gampangnya seseorang meniru, mengikuti, mencontoh, dan mengidolakan seseorang hanya karena ia seorang artis, terkenal, berwajah bagus, pintar ini, pintar itu, jago olah raga dan lain sebagainya, walaupun dengan akhlak rendah. Tampilan luar sudah menjadi standar untuk menjadikan seorang figur yang ditiru. Kemuliaan jiwa, akhlak yang luhur, iman dan takwa tidak lagi menjadi teladan dalam tatanan kehidupan nyata, tetapi hanya menjadi sebuah standar dalam tatanan kajian dan harapan yang sulit untuk diwujudkan. Bahkan, kalau pun banyak orang yang patut diteladani, kenyataannya hanya sedikit yang mau meneladani dan mengikuti.

Ketika hawa nafsu menjadi pemimpin dalam segala perbuatan, maka kecelakaan sudah di depan mata. Kebenaran dan keburukan tidak lagi menjadi suatu yang jelas dan bermakna. Kebenaran hanya dilihat dari kepentingan hawa nafsu dalam memenuhi segala keinginannya. Keburukan dan kekejian bisa menjadi kebenaran dan kebaikan menurut hawa nafsu, jika ia berkepentingan dengan hal itu. Rasa takut akan pertanggungjawaban dan azab Allah tidak lagi menjadi pengontrol gerak-gerik hamba di muka bumi.

Maka, tidaklah mengherankan jika bangsa ini tidak melahirkan pemimpin yang dapat dipercaya dan jujur, adil dan bijaksana, beriman dan bertakwa, karena bangsa ini tidak mampu mendidik generasi mudanya dan memberikan mereka identitas diri yang jelas dan benar. Tapi mereka justru mencari jati diri dengan cara ikut-ikutan trend, gaya, dan selera lingkungan sekitarnya. Bahkan, budaya semau gue merupakan trend yang sangat sukar dibendung, sampai-sampai masalah agama dan akidah pun tidak luput darinya.

Sebelum menyesal, seharusnyalah kita sebagai hamba Allah memohon kepada-Nya untuk selalu memberi kita petunjuk kepada jalan-Nya dan agar memberi kita taufik untuk mengikuti orang-orang yang diberi karunia oleh-Nya, para Nabi, orang-orang yang shiddiq, para syuhada, serta para shalihin.

Minggu, 07 Oktober 2007

AKHLAQ ISLAMI

" Sesungguhnya orang yang sangat saya kasihi dan terdekat denganku pada hari kiamat adalah orang yang terbaik akhlaqnya. Dan orang yang sangat aku benci dan terjauh dariku pada hari kiamat adalah yang banyak bicara, sombong dalam pembicaraannya dan berlagak menunjukkan kepandaiannya" (H.R At Tirmidzi).

Membaca tuntas hadits ini sejumput rasa menusuk dalam,
mengajak hati untuk bermuhasabah. Tidakkah kita termasuk orang yang banyak bicara dan berlagak menunjukkan kepandaian ? Tidakkah rasa angkuh meluncur mudah, terselip dalam setiap kata, penampilan kita, atau tingkah kita ? Bila jawabnya "ya", astaghfirullah, Rasulullah akan sangat membenci kita, akan menjauh dari kita pada hari dimana Pengadilan Besar akan dijalankan, pada hari dimana setiap
hati menjawab apa adanya, pada hari dimana panji islam dan penganutnya berbaris gembira menuju jannah.

Dalam diinul Islam, dalam dien yang kita rela mati di dalamnya, dalam aturan hidup yang telah kita ikrarkan janji untuk menapakinya, dalam agama yang lurus dan diridhaiNya, akhlaq adalah fondasi yang luar biasa penting. Demikian pentingnya sehingga, tidaklah diutus Rasulullah selain untuk memperbaiki akhlaq manusia. Ibarat tubuh manusia, akhlaq adalah ruh yang mewarnai segala aspek hidup dan kehidupan manusia.

Kekuatan dan ketangkasan gerak, kemampuan terobosan dan kecemerlangan pemikiran seorang Muslim, manakala tidak dibalut dengan budi pekerti, akhlaqul kharimah, maka bisa jadi amalanya akan menjadi buih, tak ada manfaat bagi manusia, apalagi di hadapan Allah Yang Maha Mulia. Atraksi intelektual, akrobat kata-kata dan sirkus retorika bisa jadi malah berubah menjadi bumerang yang siap memenggal leher sendiri. Membuahkan rasa benci pada Muslim lainnya dan bukan membuat mereka tambah berkasih sayang, ingat-mengingati tentang al Haq dengan kesabaran.

Manakala rasa, "sayalah yang paling tahu" muncul di hati seorang Muslim, maka pada detik itu juga al Haq menjauh dari lidahnya, pergi membekaskan kekosongan, kering dan pahit bagi
hati orang lain yang mendengar.

Maka tak perlu dipertanyakan lagi betapa akhlaq yang mulia mutlak diperlukan dan harus kita miliki, apalagi kalau hati ini sudah terikat dengan jalan yang Allah gariskan, sudah terpincut pada perjuangan menegakkan kalimahNya, sudah berikrar hidup dan mati, cinta dan benci hanya untuk menapaki jalan ketaqwaan, jalan para anbiya dan mursalin, para syuhada dan shidiiqiin. Tanpa ini harakah islamiyah tak akan dapat digulirkan secara manhaji, tak akan terbimbing oleh "tangan"-Nya, dan tak akan sampai pada tujuan yang telah diskenariokanNya.

Namun memperoleh akhlaq islami sesulit menapaki jalan yang dicontohkan para Nabi, tak semudah mengatakan dan mendiskusikannya. Ia hasil perjuangan hati dan kesabaran, hasil suatu latihan dan pembinaan, hasil dari kesungguhan tekad dan ketulusan niat. Karenanya tak heran kalau Nabi bersabda;

"Tak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mu'minin di hari kiamat daripada husnul khulq (akhlaq)" H.R At Tirmidzi
Akhlaqul kharimah sangat tinggi balasannya, kedekatan dan rasa kasih Rasulullah. Siapa yang tidak ingin dekat dan dikasihi Rasulullah, pujaan, uswatun khasanah, penyampai sehingga islam
kita terima dan kita syukuri sebagai dien kita ? Lalu bagaimana cara menumbuh-suburkan akhlaq islami ? Pertanyaan inilah yang pertama mesti kita dalami.

Hasbunallah wani'mal wakiil.

wassalam,


Copyright © 2007. santridalnet@crew. All rights reserved. Hak Cipta DiLindungi Allah Azza Wa Jalla Yang Maha Kuasa